Survive Walaupun Salah Jurusan
![]() |
| Source : www.pexels.com (foto by : George Dolgikh) |
Memilih jurusan saat melanjutkan pendidikan adalah keputusan besar yang sering kali dihadapi oleh banyak siswa dengan perasaan campur aduk antara senang dan cemas. Bagi saya, keputusan ini menjadi pengalaman yang penuh pembelajaran ketika saya memutuskan untuk mengikuti jejak teman-teman saya dan memilih jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pilihan ini, didasari oleh pengaruh lingkungan dan keinginan untuk memenuhi ekspektasi orang lain, akhirnya menjadi salah satu boomeran terbesar bagi saya.
Ketika memasuki tahun pertama, saya merasa senang bisa bersama dengan teman-teman saya dan berada di jurusan terfavorit di sekolah. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai tidak nyaman. Materi pelajaran yang diajarkan tidak menarik bagi saya, dan saya merasa kesulitan untuk memahaminya. Saya mulai meragukan pilihan saya, tetapi saya tetap bertahan, berharap perasaan tidak nyaman itu akan hilang dengan sendirinya.
Ketika saya duduk di kelas 11, kesadaran bahwa saya salah jurusan semakin kuat. Saya merasa hampa dan tidak puas dengan apa yang saya pelajari. Hal ini mengingatkan saya dengan dari nasihat kakak saya sebelum memilih jurusan ini. Sebelunya kakak saya telah menyarankan untuk memilih jurusan yang lebih sesuai dengan kemampuan saya, yaitu di bidang Sosial Humaniora (Soshum) dan bahkan menyarankan saya untuk masuk SMA. Namun, saat itu, saya terlalu terpengaruh oleh pilihan teman-teman saya dan ekspektasi orang lain terhadap saya.
Menyadari bahwa saya telah membuat pilihan yang salah menjadi tantangan berat bagi saya. Saya merasa menyesal dan frustrasi, tetapi pada saat yang sama, saya tahu bahwa ini adalah pilihan saya sendiri. Saya berusaha menerima keadaan dan mencoba melihatnya dari sudut pandang positif. Banyak orang yang ingin berada di posisi saya, dan saya memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Saya mulai belajar lebih giat untuk mengejar ketertinggalan saya. Saya sadar bahwa saya tertinggal dari teman-teman saya, sehingga saya harus bekerja lebih keras. Usaha saya tidak main-main. Setiap pulang sekolah, saya langsung membuka ulang pelajaran yang dipelajari di sekolah. Setelah itu, saya melanjutkan belajar dari jam 7 malam sampai tengah malam. Tak hanya itu, saya kerap kali bangun subuh-subuh untuk belajar lagi. Dengan usaha ekstra ini, saya berhasil menjadi peringkat satu paralel di kelas saya selama dua tahun berturut-turut. Hal itu tidak hanya membuktikan kemampuan saya, tetapi juga mengajarkan saya bahwa dengan usaha yang giat dan tekun, saya dapat berprestasi meskipun berada di situasi yang tidak saya sukai.
Pengalaman ini menjadi bekal penting ketika saya harus memilih jurusan untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Saya tidak lagi memilih jurusan hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain, apalagi ikut-ikutan pilihan teman. Saya benar-benar berusaha mencari tahu apa yang saya sukai dan di mana passion saya berada. Saya sadar bahwa memprioritaskan pilihan diri sendiri jauh lebih penting.
Yang tak kalah penting yaitu mengenal diri sendiri, memahami apa yang kita sukai, dan berani mengambil keputusan yang sesuai dengan passion kita. Terakhir, saya ingin menyampaikan bahwa meskipun salah jurusan, kita masih memiliki peluang untuk berprestasi selama kita berusaha dengan giat dan menerima jurusan tersebut dengan sepenuh hati.

Semangat yaaaaa, saya juga dulu salah pilih jurusan, saya suka bahasa, eh masuk STM ambil Jurusan Bangunan Gedung, oonnya lagi diterusin sampai Teknik Sipil, hahaha.
BalasHapusTapi senggak sukanya saya sama jurusan itu, sekarang saya bangga bisa jadi sarjana Teknik Sipil, meskipun akhirnya sekarang jadi blogger sih, karena sarjana teknik sipil nggak cocok buat mamak-mamak, heeheheheh
Sukses terus kak, terima kasih telah mampir ke blog saya😀🙏🏻
Hapus